INDONESIA Mau Kemana...?
Pagi ini saya baru punya waktu menyimak isi status FB teman-teman berkualitas saya.. hehehe.. Astagfirullooooooh... Bikin jantungan!
Berita tentang mutilasi, anggota DPR mencoba menjegal Presiden RI, Sistem kartu-kartu pengayom kehidupan rakyat yang dipolitisir... dll. Hadeuuuh... Ini semua kok seperti 'sudah biasa' ya? Padahal sebenarnya berita-berita itu LUAR BIASA lho kalau terjadi di UAE.. ataupun di negara-negara yang sudah konsisten ingin maju.
Di Abu Dhabi, baru-baru saja terjadi peristiwa anak usia 3 tahun meninggal di bus sekolah, dikarenakan dia tertidur hingga tidak menyadari bahwa bus sudah mengantar ke semua tempat, dia masih tertidur di bangku belakang. Bus terkunci, dan dia meninggal di dalam bus karena mati lemas kepanasan. Tragis sekali bukan? Seluruh Abu Dhabi gempar dan sedih sekali.. Pemerintah wilayah Abu Dhabi langsung hari itu juga bertindak (gak pake lama, dan gak pake gontok2an dulu ama DPR nooh..).. Mereka menginvestigasi pihak bus sekolah yang merupakan agensi yang bekerjasama dengan sekolah anak itu. Pengemudi bus dan pendampingnya langsung masuk penjara! Bagaimana dengan pihak sekolah si anak kecil itu? Sekolah itu langsung direncanakan akan ditutup tahun depan, meskipun sekolah itu adalah private school (sebutan untuk sekolah negeri). Dan pemerintah memberlakukan peraturan lebih ketat lagi soal penyeragaman fasilitas bus sekolah, tidak lagi 'hanya' terdapat CCTV di dalam bus sekolah dan pendamping bus yang bertanggungjawab, tetapi ditingkatkan harus terdapat 'kartu siswa electromagnetic ber-GPS', sehingga orang tua siswa bisa memantau anaknya berada di mana melalui cellphone dan ipad (mobile electronic).
Melihat pro-kontra soal permasalahan kartu-kartu yang dilemparkan ke publik oleh pemerintahan Jokowi yang ditanggapi sengit oleh DPR dan sebagainya.... Saya cuma pengen teriak aja! "TOLONG DOOOONG...!!"
Disini (di Abu Dhabi) kartu-kartu kayak gitu sudah biasa dipakai, itu sangat memudahkan bagi aktivitas masyarakat untuk melakukan transaksi kehidupan. Karena disini aturan dan fasilitas pendukungnya sudah bersinergi dan terintegrasi... Dan juga tidak ada parlemen yang ingin menjegal kemaslahatan buat rakyat (Ya Allaaaah... Alhamdulillah.. tidak ada DPR disiniiiii.. Alhamdulillah ya Rabb!!). Para sheikh nya pun dipilih bukan karena mitos NOTONEGORO, titisan si anu, ataupun karena pemegang keris bla-bla-bla... Tapi dipilih berdasarkan kearifan yang ada pada diri sang sheikh yang sudah dipersiapkan dari mereka lahir, bahwa mereka adalah para pemimpin umat Allah... jadi bertanggungjawabnya langsung ke Allah saat mereka mati. That's it! Gak perlu riweuh sama KPK eta maaah... heuheu...
Indonesia perlu pendidikan mental berpikir positif sejak usia dini, agar 20-30 tahun ke depan tidak ada lagi orang-orang yang sekarang gontok-gontokan di Legislatif dan Eksekutif meneriakkan amanah rakyat, tetapi sebenarnya mereka hanya sekumpulan generasi yang rusak. Berarti sistem pendidikan orde baru selama 30 tahun kemarin sudah gagal total. Indonesia masih berada pada krisis kehidupan, dan belum mampu untuk berkompetisi pada era perdagangan bebas (globalisasi) pada tahun 2015 yang sudah di depan mata! Rakyat Indonesia masih lebih dari separuhnya 'buta' bahasa Inggris komunikasi aktif. Ini adalah bencana yang sesungguhnya bagi stabilitas negara. Salahkan lah para leluhur kita yang terlena oleh alam Indonesia. Mari kita kerja keras membentuk keturunan kita agar tidak sebego kita hari ini, dan sebego para leluhur kita (maaf).
terimakasih umi Hollysia Diana Trisnasari sudah diijinkan buat mengcopas dan menyebarluskannya :)
Pagi ini saya baru punya waktu menyimak isi status FB teman-teman berkualitas saya.. hehehe.. Astagfirullooooooh... Bikin jantungan!
Berita tentang mutilasi, anggota DPR mencoba menjegal Presiden RI, Sistem kartu-kartu pengayom kehidupan rakyat yang dipolitisir... dll. Hadeuuuh... Ini semua kok seperti 'sudah biasa' ya? Padahal sebenarnya berita-berita itu LUAR BIASA lho kalau terjadi di UAE.. ataupun di negara-negara yang sudah konsisten ingin maju.
Di Abu Dhabi, baru-baru saja terjadi peristiwa anak usia 3 tahun meninggal di bus sekolah, dikarenakan dia tertidur hingga tidak menyadari bahwa bus sudah mengantar ke semua tempat, dia masih tertidur di bangku belakang. Bus terkunci, dan dia meninggal di dalam bus karena mati lemas kepanasan. Tragis sekali bukan? Seluruh Abu Dhabi gempar dan sedih sekali.. Pemerintah wilayah Abu Dhabi langsung hari itu juga bertindak (gak pake lama, dan gak pake gontok2an dulu ama DPR nooh..).. Mereka menginvestigasi pihak bus sekolah yang merupakan agensi yang bekerjasama dengan sekolah anak itu. Pengemudi bus dan pendampingnya langsung masuk penjara! Bagaimana dengan pihak sekolah si anak kecil itu? Sekolah itu langsung direncanakan akan ditutup tahun depan, meskipun sekolah itu adalah private school (sebutan untuk sekolah negeri). Dan pemerintah memberlakukan peraturan lebih ketat lagi soal penyeragaman fasilitas bus sekolah, tidak lagi 'hanya' terdapat CCTV di dalam bus sekolah dan pendamping bus yang bertanggungjawab, tetapi ditingkatkan harus terdapat 'kartu siswa electromagnetic ber-GPS', sehingga orang tua siswa bisa memantau anaknya berada di mana melalui cellphone dan ipad (mobile electronic).
Melihat pro-kontra soal permasalahan kartu-kartu yang dilemparkan ke publik oleh pemerintahan Jokowi yang ditanggapi sengit oleh DPR dan sebagainya.... Saya cuma pengen teriak aja! "TOLONG DOOOONG...!!"
Disini (di Abu Dhabi) kartu-kartu kayak gitu sudah biasa dipakai, itu sangat memudahkan bagi aktivitas masyarakat untuk melakukan transaksi kehidupan. Karena disini aturan dan fasilitas pendukungnya sudah bersinergi dan terintegrasi... Dan juga tidak ada parlemen yang ingin menjegal kemaslahatan buat rakyat (Ya Allaaaah... Alhamdulillah.. tidak ada DPR disiniiiii.. Alhamdulillah ya Rabb!!). Para sheikh nya pun dipilih bukan karena mitos NOTONEGORO, titisan si anu, ataupun karena pemegang keris bla-bla-bla... Tapi dipilih berdasarkan kearifan yang ada pada diri sang sheikh yang sudah dipersiapkan dari mereka lahir, bahwa mereka adalah para pemimpin umat Allah... jadi bertanggungjawabnya langsung ke Allah saat mereka mati. That's it! Gak perlu riweuh sama KPK eta maaah... heuheu...
Indonesia perlu pendidikan mental berpikir positif sejak usia dini, agar 20-30 tahun ke depan tidak ada lagi orang-orang yang sekarang gontok-gontokan di Legislatif dan Eksekutif meneriakkan amanah rakyat, tetapi sebenarnya mereka hanya sekumpulan generasi yang rusak. Berarti sistem pendidikan orde baru selama 30 tahun kemarin sudah gagal total. Indonesia masih berada pada krisis kehidupan, dan belum mampu untuk berkompetisi pada era perdagangan bebas (globalisasi) pada tahun 2015 yang sudah di depan mata! Rakyat Indonesia masih lebih dari separuhnya 'buta' bahasa Inggris komunikasi aktif. Ini adalah bencana yang sesungguhnya bagi stabilitas negara. Salahkan lah para leluhur kita yang terlena oleh alam Indonesia. Mari kita kerja keras membentuk keturunan kita agar tidak sebego kita hari ini, dan sebego para leluhur kita (maaf).
terimakasih umi Hollysia Diana Trisnasari sudah diijinkan buat mengcopas dan menyebarluskannya :)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar